Inilah Kisah Penugasan Ke Israel Dari Radio BBC

0
147

Demimasa.co.id
Cerita Simpang siur visa Israel Untuk WNI.oleh Panusunan Simanjuntak.

Obrolan simpang-siur tentang visa Israel untuk warga Indonesia baru-baru ini mengingatkan saya akan kunjungan saya ke Israel atas penugasan dari Radio BBC Seksi Indonesia, London, pada tahun 1992. Dari pengalaman saat itu saya dapat menyimpulkan bahwa Israel mau memberikan visa kunjungan ke warga dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara itu. Saya menyimpulkan demikian karena  isteri dan anak kami,  yang masih satu paspor dengan ibunya saat itu, juga memperoleh visa pada waktu yang sama. Tetapi visa itu tidak dicapkan di paspor, melainkan dicantumkan di selembar kertas. Visa yang kami peroleh saat itu berlaku dalam waktu enam minggu untuk kunjungan selama dua minggu

Tujuan peliputan saya adalah untuk mengetahui pendapat dari orang-orang Israel sendiri tentang ketiadaan hubungan diplomatik antara Israel dengan Indonesia.

Direktur Divisi Asia, Kementerian Luar Negeri Israel, David Matnai, mengatakan penyebabnya adalah agama. Namun, ia tak bisa mengerti mengapa agama yang menjadi penyebab, karena menurutnya, sengketa Israel dengan negara-negara Arab adalah sengketa politik, bukan sengketa agama.

Kepala Kantor Pers Pemerintah, Uri Dromi, mengatakan sengketa Israel-Arab memiliki dimensi kebudayaan karena dunia Arab tetap melihat orang-orang Israel sebagai pendatang di Timur Tengah

Wakil Direktur Jenderal Divisi Asia, Kementerian Luar Negeri Israel, Moshe Yegar, mengatakan Israel tidak dapat menerima keterlibatan Indonesia dalam usaha mencari perdamaian antara negaranya dengan negara-negara Arab karena Indonesia bersikap berat sebelah.

Yegar mengatakan negaranya tidak berusaha untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia karena Indonesia tidak berminat untuk itu.

Kembali ke urusan visa, Amatzia Bar-Yosef dari Universitas Hebrew di Jerusalem adalah seseorang yang  keinginannya berkunjung ke Indonesia tak kesampaian karena Indonesia tidak mengeluarkan visa kunjungan bagi warga Israel. Keinginannya datang ke Indonesia hanyalah untuk lebih mendalami musik gamelan, seperti katanya sendiri, untuk dapat merasakan keaslian kebudayaan itu.

Sejak kunjungan itu, yang selalu menjadi pertanyaan dalam hati saya adalah: Adakah makna usaha Indonesia dalam ikut mencari perdamaian atas sengketa Israel-Palestina jika Indonesia tetap tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel? Dan, bukankah Indonesia yang rugi tak mau memberi visa kunjungan bagi warga Israel sementara Israel untung dengan mau memberi visa kunjungan bagi warga Indonesia?

Tulisan selengkapnya tentang kunjungan saya ke Israel menjadi satu bab dari buku “Beragam Cerita Dari Perjalanan Kewartawanan Ke Mancanegara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here